selamat Datang di Serambi Sunyi

Sabtu, 04 Desember 2010

Prapatan

Gemuruh angin menebak dedaun lamtoro
Menyibak ujung ranting yang menjulur ke jalan
Di prapatan ini langkah derap saling memburu
Pagi diburu pergi
Petang diburu pulang
Pantang laju menggontai arang
Setiap detik waktu berbaur angan
Mencari hidup tuk berlaku
Di prapatan ini, Engkau menulis
Tempat ini hilir- mudik kehidupan
Persimpangan antara fana dan baka

(Cempaka Mas, 4 Desember 2010)

sabar dan tawakkal

Ayah
kau berbisik padaku
“sing sabar jeung tawakkal ziz”
Dua kata berangkai sejoli
Satu dua saling mematri
Sabar mengukir tawakkal
Tawakkal menghias sabar
Tak boleh dipisah
Karena duanya adalah mahabbah
Sabar bukan menahan
Tapi menerima
Tawakkal bukan menyerah
Tapi berserah
Sabar-tawakkal bukan hanya beriring melangkah
Tapi juga menggiring sa’adah

(Pedongkelan, 2 Nopember 2010)

Senin, 09 Agustus 2010

Pagi Ini

Ayah,
ruangan ini membisu kelu
tak berucap berita tentang hadirmu
tak ada lagi kitab-kitab bersorak terserak
di sembarang sudut
kini mereka hanya berbaris rapi menyusun diri
tanpa tersentuh tangan lembut
dan sinar mata tajam
yang mampu merobek keangkuhan pengarangnya
denting jam bernada pilu
bergema mengisi ruang kosong tak bertuan ini
ah, sajadah itu...
mengingatkanku pada dzikirmu menjelang fajar
juga secangkir teh ini
yang kububuhi dengan tropicana
semakin lengkap wujudmu di pagi ini.

Selasa, 26 Januari 2010

Maaf anakmu !

sajak buat mama Kyiai

genap tiga pekan sudah
kau lemah
merasai nikmat yang terambil
jemarimu bergetar
dada berdebar
mata redup binar
dan gigil menyebar
menyergap raga

maaf anakmu..
yang hanya temanimu
lewat mimpi
meski tak cukup bagimu
hanya do'a kubisikkan
agar hangat malam-malam mu
meski rapuh
bias,
lepas,
di antara atmosfir dosaku
namun yakinku menggebu
; "Allah Maha Tahu"

maaf anakmu
bukan tak ada peduliku
tuk menggenggam jemarimu
atau sekedar menyeka lukamu
tak pula kubermalam
di pelupuk matamu
namun kupastikan
aku selalu ada (insya Allah)
walau pudar
samar.

Jendral Soedirman, 17 Oktober 2009

Temu dan Pisah

”Ada pertemuan pasti ada perpisahan”
Itu yang kau bisikkan ke dalam hatiku.

Ya..ya semua insan pasti mengalaminya
Termasuk ibuku, ayahku, bahkan nabiku
Aku sadar tapi telingaku tak mau dengar
Aku sadar tapi nafsuku tak pernah sabar
Aku sadar tapi hatiku liar
Aku sadar tapi ikhlasku pudar
Jemariku terlalu rapuh
Tuk menahan
Biar waktu tak berlalu
Atau bergeser meski sedetik
Kau bilang; mudah-mudahan pintu yang baru terbuka
Bagiku pintu yang baru terlalu sulit tuk dibuka
Meski sudah ku ketuk
Sekali
Dua kali
Bahkan berkali-kali
Tetap saja ia merapat dalam bingkainya
Sempat terpikir kukembali
Memasuki pintu yang lama
Tapi sekarang pintu lama pun
Menjadi segan kumasuki
Karena ada pagar kawat yang membelit
Akhirnya harus kutelan sunyi sendiri
14 september 2009

Sajak Rindu

Sajak rindu ini kutulis
Bukan ku-miris akan tangis
Tapi
Lebih pada gejolak rasa yang mengiris
Dalam ingatanku melukis-lukis
Ingin kulepas
Namun terlalu manis
Tuk menjadi sebuah historis
Pernah terpikir tuk mengikis
Semua endapan rindu
Biar menipis habis
Namun kalbuku meradang meringis
Menahan balutan duri sesak
Menusuk menitis
pada sajak rindu yang kutulis

Hasyim Asy’ari, 13 Oktober 2009

Gempita cpns 2009

Pagi itu ponselku berdering
Kulihat ada pesan gembira
; ua dah baca pengumuman cpns belum?
Kubalas; belum, ya nanti saya cari tahu!
Segera kupacu kaki melaju pergi
Sambil senyum hati berdebar dalam do’a
Semoga ada takdirku tahun ini
Amien.
setelah kudapat secarik kertas
berisi pundi-pundi harapan
kuperhatikan apa saja rukun dan syaratnya
tak lupa ijtihadku menyergap
berspekulasi
berangan-angan
baiknya daftar dimana?
Kutub utara sudah penuh
Oleh tumpukan cita-cita yang menahun
Kutub selatan sudah padat
Oleh bongkahan rasa yang membeku
Sedangkan bagian timur dan barat
Meski lengang
Namun sangka-ku berceloteh
Ah mungkin saja jatahnya berpenghuni rupiah
Mudah-mudahan di manapun
kulempar ikhtiarku
akan menjadi kail
penangkap takdirku tahun ini
Amien.

Hasyim Asy’ari, 13 Oktober 2009

RAMADHAN SEKARANG

Ya Rabb..ramadhan sekarang ku berharap kembali cinta-Mu
Meski shaumku batal dipermulaan fajar
Ternoda di pertengahan hari dan
Sore yang penuh dusta..
Namun kucoba menyulam ridho-Mu
Di antara reruntuhan pahala..

Ya Rabb..ramadhan sekarang ku berharap kembali cinta-Mu
Meski ku tak yakin catatanku akan lebih bagus dari sebelumnya
Yang masih berlumut dan berkarat dosa
Namun kucoba merayu-Mu
Dengan ikhlasku yang rapuh

Ya Rabb..ramadhan sekarang ku berharap kembali cinta-Mu
Meski seluruh penghuni langit mencibirku
Pun penghuni bumi..
Tidaklah apa, asal jangan Engkau

Ya Rabb..ramadhan sekarang ku berharap kembali cinta-Mu
Kurelakan taqdir-Mu buatku
Meski kerap ku meronta berlari
Bahkan menuding-Mu tak berbelas-kasih

Ya Rabb..ramadhan sekarang ku berharap kembali cinta-Mu
Meski sempat ku merasa malu
Tak kuasa tuk meminta..
Ku takut kau pergi..
Tak menyisakan kasih-Mu untukku

Senin, 25 Januari 2010

Beda

benar kataku
salah kau bilang
menurutku baik
buruk kau anggap
kataku putih
hitam kau lihat
ikhlas rasaku
pamrih kau sebut
sikapku biasa
berlebih kau rasa
padahal kau juga tahu
begini adaku
terlalu kau kata
aku kira kita sama
ternyata lain
sampai akhirnya aku tahu
mataku dan matamu beda
dalam menatap masa lalu

Sabtu, 09 Januari 2010

sajak mama kyiai

Sebagai santri
Aku mengagumi-mu
Alam pikirmu selalu berlayar
Mengarungi terjangan segara pengetahuan
Kau selami dasaran ushul
hingga ke ranting-ranting mazhab fiqh
sukma-mu berdesir mengembara bersama rumi
di lembah-lembah persia
terbang, naik, dan hilang menyatu

kulihat al-Ghazali merasuki nadi zuhud-mu
kau hembuskan angin cinta pada segenap jiwa
tak pernah kau menyerah
bertekuk lutut di bawah nestapa
deritamu kau bisikan pada sunyi
keluhmu kau pintal menjadi do’a
air mata kau endap
menjadi untaian kekuatan
namun, yang paling aku kagumi
adalah sikap santun yang kau tebar
lewat senyum dan gerakmu

Jenderal Soedirman, 02/10/09

MAAF KANG!

”maaf kang!”
Kalimat itu mengalir lepas
Diiringi senyum membalut wajah
Meski kutahu
Tak ada salah darinya
Kalimat itu selalu bernyanyi di hatiku
Berirama country bermelodikan kritik
Kini kalimat itu kulagukan sumbang
Karena notasinya ada yang hilang
Atau mungkin kunci nadanya tidak tepat
Ah...mustahil..
Aku kan komposser handal setara maestro
Lalu apa yang salah?
Belakangan kusadar
Kalimat ”maaf kang!”
Akan terdengar harmoni
Jika dia masih di sini.

MAKAN PAGI

”Mang mau makan ?”
Aku tersentak
Suara itu terdengar lagi
Di telinga kananku
Padahal kutahu ilusi mengecohku
Tapi jelas terngiang tadi pagi
Tanpa ragu kubilang ” ya mau!”
”hei jangan lupa, bala-bala tambah sambalnya!”
Begitu nyata khayal ini
Hingga tak disangka
Semua lenyap, senyap dalam sekejap
Tak ada nasi
Tak ada bala-bala
Apalagi sambalnya
Yang ada hanya piring telungkup
Bekas makan pagi bulan lalu

Bila Rindu Ini Wajar

Bila rindu ini wajar
Sampaikan saja
Lewat burung berkicau
Biar dia dendangkan
Nyanyian hati ini
Atau Kau hembuskan saja
Pada angin sore
Biar dia riuhkan
Nada-nada kalbuku
Yang risau akan sepi

Bila rindu ini wajar
Kau hamparkan saja pada langit-Mu
Biar menjadi kilau gemintang
Yang menebar rinduku dalam kejora


Jangan biarkan tali rindu ini
Tak mengikat
Bersimpul menjadi temali
Yang lepas menyendiri
Malah mengikat sepi

Jenderal Soedirman, 10 Oktober 2009

Aku takut...

Tuhan aku takut
Takut oleh pekatnya takdir
Jalan berlubang
Derasnya hidup
Tarian nasib
Yang meliuk bergelombang
Atau nyanyian sumbang para musafir

Tuhan, pegangi aku
Tuk berjalan
Menyusuri teluk kehidupan
Agar dapat kuberlayar
Mencari lenteraku yang hilang
Di dasar hati yang terdalam

Namaku terhapus

Alhamdulillah kuucap
Sebagai nada syukurku
Atas nikmat
Dan atas wujudku
Yang lenyap
Hilang di hati
Dalam sekejap

Terima kasih namaku telah terhapus
Dari denyut nadimu nan lembut
Biar tak ada lagi mentari terluka
Terpukul oleh dera badai
Yang slalu resahkan sukma
Adaku tak berarti
Tiadaku tak peduli
(17/10/09)

Semalam di Majalengka

Meski hanya semalam
Kusinggah di pelataran asri
Namun kurasakan damai bersemi
Menyelimuti waktuku
Gerakan detik
Yang bergeser lambat
Seolah tak mau lepas
Dari angka yang ia tunjuk
Tak ada kepura-puraan
Tak ada kepalsuan
Segalanya polos
Putih bening apa adanya
Bukan adanya apa
Tak ada ambisi mengejar uang
Uang dikejar ambisi
Siang dikejar malam
Malam dikejar siang
Setiap jamnya begitu nikmat
Hidup yang dinikmati

Tiupan angin petang
Selaksa belaian bidadari
Membuai damai
Kapilah nyamuk kebun
Berdengung merdu
Membacakan ayat-ayat rindu
Semalam di Majalengka
Laksana seribu malam di panca buana

Ayat-ayat Rindu

Ketika kaki kulangkah
Menapak menyentuh lantai cigaleuh
Kulihat senyum ramah dedaun salak
Menyambutku
Seraya melambai memberi salam
Salam hangat dari alam
Tak alpa pula
Butiran mutiara awan
Bersorak riuh-rendah
Berkejaran menyalamiku
Tiap tetesnya meresap
Menyusup membasah
Di ruang hati
Ibu-ibu paruh baya
Melafadz ayat-ayat rindu
Pada tepi siang
Di surau dusun sukamukti
Ayat-ayat rindu bagi pemilik jagat
Ayat-ayat rindu pada tauladan umat
Dan ayat-ayat rindu
tentang kampung akhirat

Empedu penantian

Duhai cempaka hatiku
Nyaris sewindu kau terpekur
Menanti nakhoda berlabuh
Menepi
Di gapura impian
Ribuan jam
Kau ukir namaku
Di waktumu
Kau bingkai
Dengan Kristal airmata
Kau hiasi
Dengan wewangi do’a
Biar tak sia-sia
Empedu penantian
Dalam diam
Dan sepimu

(senin, 19 /10/09)

Sajak Rindu

Sajak rindu ini kutulis

Bukan ku-miris akan tangis

Tapi

Lebih pada gejolak rasa yang mengiris

Dalam ingatanku melukis-lukis

Ingin kulepas

Namun terlalu manis

Tuk menjadi sebuah historis

Pernah terpikir tuk mengikis

Semua endapan rindu

Biar menipis habis

Namun kalbuku meradang meringis

Menahan balutan duri sesak

Menusuk menitis

pada sajak rindu yang kutulis

Hasyim Asy’ari, 13 Oktober 2009

Puisi Sunyi

  • duka